Menu

Menembus Keterbatasan: Inovasi "Satu Guru, Banyak Peran" dari PKBM Dharma Wangsa Denpasar Hadirkan Transformasi Pendidikan Kesetaraan

  • Kamis, 18 Desember 2025
  • 539x Dilihat

DENPASAR – Ekosistem inovasi daerah di Kota Denpasar terus menunjukkan denyut positifnya, tidak terkecuali pada sektor pendidikan non-formal. Menghadapi tantangan klasik berupa keterbatasan sumber daya manusia, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dharma Wangsa Denpasar melahirkan terobosan cerdas bertajuk "Satu Guru, Banyak Peran". Inovasi yang diinisiasi oleh Ni Wayan Seriasih, S.Pd. ini menawarkan solusi praktis untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan kesetaraan.

Lahirnya inovasi ini dilatarbelakangi oleh kondisi riil di lapangan, di mana satu orang guru kerap kali harus melayani peserta didik dari tiga jenjang yang berbeda (Paket A, B, dan C) dalam satu ruang kelas dan satu waktu yang bersamaan. Perbedaan mata pelajaran dan tingkat kesulitan yang tajam membuat pembelajaran konvensional menjadi monoton, sehingga siswa rentan merasa bosan dan kurang terlibat secara aktif.

Menjawab persoalan tersebut, inovasi "Satu Guru, Banyak Peran" hadir dengan pendekatan Multi-Grade Teaching (pembelajaran multi-jenjang). Melalui metode ini, guru menetapkan satu tema besar yang kemudian diturunkan menjadi materi dengan tingkat kesulitan yang disesuaikan per jenjang: sederhana untuk Paket A, menengah untuk Paket B, dan kompleks untuk Paket C.

Pendekatan ini diperkuat dengan metode kolaboratif berupa peer teaching atau tutor sebaya. Siswa tingkat lanjut (Paket C) diberdayakan untuk mendampingi dan membantu kelancaran belajar adik-adik kelasnya. Untuk mendukung daya serap materi, pembelajaran dikemas secara kontekstual dengan memanfaatkan media kreatif seperti kartu belajar, poster, hingga pemanfaatan aplikasi digital yang bisa diakses secara gratis.

Dampak dari implementasi inovasi yang mulai diterapkan pada Januari 2025 ini sangat dirasakan oleh warga belajar. Kelas yang sebelumnya cenderung pasif kini bertransformasi menjadi ruang kolaborasi yang kondusif, interaktif, dan inklusif. Dari sisi tenaga pendidik, model ini mendorong guru kesetaraan untuk tampil lebih adaptif, kreatif, dan profesional dalam mengelola dinamika kelas.

Keunggulan utama dari gagasan ini terletak pada efisiensinya. Strategi ini sangat aplikatif dan memiliki potensi replikasi yang tinggi untuk diadopsi oleh PKBM lain yang menghadapi krisis tenaga pengajar serupa.

Inovasi milik PKBM Dharma Wangsa ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah sebuah penghalang, melainkan justru menjadi pemantik kreativitas. Dedikasi ini tidak hanya mengangkat martabat pendidikan kesetaraan agar setara dengan jalur formal, tetapi juga mengukuhkan komitmen Kota Denpasar dalam memajukan inovasi pelayanan publik yang berpusat pada masyarakat.